Kisah seorang ibu di Aceh yang anaknya alami rubella: 'Saya pikir panas biasa, tapi ternyata rubella' | Liputan 24 Aceh

Gratis Berlangganan

Tuliskan Alamat Email Anda. Gratis!

Delivered by FeedBurner

Kisah seorang ibu di Aceh yang anaknya alami rubella: 'Saya pikir panas biasa, tapi ternyata rubella'

Posted by On 10:44 PM

Kisah seorang ibu di Aceh yang anaknya alami rubella: 'Saya pikir panas biasa, tapi ternyata rubella'

Kisah seorang ibu di Aceh yang anaknya alami rubella: 'Saya pikir panas biasa, tapi ternyata rubella'

Media playback tidak ada di perangkat Anda
Husnul, anak 'korban' rubella yang lahir dengan kelainan bawaan

Seorang ibu rumah tangga di Aceh mengungkapkan awal mula kenapa anaknya terserang virus Congenital Rubella Syndrome (CRS) hingga upayanya agar anaknya dapat berjalan.

Husna, ibu rumah tangga berusia 27 tahun asal Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh, mengaku saat ini hidupnya dia fokuskan kepada putrinya yang berusia dua tahun.

Bagaimana tidak, buah hati pertamanya Husnul Faina mengalami Congenital Rubella Syndrome (CRS).

Congenital Rubella Syndrome (CRS) ialah infeksi pada janin didalam kandungan, yang diakibatkan oleh virus rubella.

Hak atas foto ANTARA FOTO/AMPELSA
Image caption Petugas menyuntikan Vaksin Campak dan Rubella (MR) kepada bayi saat dilakukan imunisasi di Puskesmas Darussalam, Banda Aceh, Rabu (19/09).

"Saat itu saya sedang hamil anak pertama (Husnul), usia kehamilan baru berjalan dua bulan, badan saya panas dan mengeluarkan ruam-ruam merah, saya pikir panas biasa, rupanya itu virus rubella dan baru diketahui ketika husnul lahir," kata Husna, Ibu dari anak yang terkena dampak rubella, Rabu (19/09), kepada Hidayatullah, wartawan Aceh, yang melaporkan untuk BBC News Indone sia.

  • Pemprov Aceh akhirnya bolehkan vaksinasi MR, meski mengandung enzim babi
  • MUI berjanji ikut terjun atasi rubella, penyakit 'sangat berbahaya' yang bisa jadi 'beban luar biasa'
  • Aceh 'terancam tsunami Rubella': Plt Gubernur perintahkan penundaan vaksinasi kendati MPU membolehkan

Husnul Faina (2), merupakan korban dari Congenital Rubella Syndrome (CRS), sejak lahir berbagai kecacatan permanen sudah mendarah daging dalam tubuhnya, yakni memiliki jantung dan otak yang lebih kecil dari manusia umumnya, telinga yang tidak bisa mendengar, mata yang tidak bisa melihat, sampai kaki yang sampai kini masih susah untuk berdiri.

Hak atas foto ANTARA FOTO/ RAHMAD
Image caption "Alhamduli llah kalau bapak Plt. Gubernur sudah membolehkan vaksin, semoga pemerintah juga bisa menggratiskan biaya vaksin untuk pengantin baru yang merencanakan kehamilan," harap Husna, ibu dari anak yang berdampak rubella.

"Sejak Husnul lahir saya sudah membawa dia berobat kemana-mana, sampai waktu dia harus di operasi mata, di Medan Sumatera Utara, kala itu saya sedang dalam posisi hamil anak kedua, tapi saya tidak peduli, anak saya harus sehat seperti anak normal lainnya," kata Husna, dengan nada terisak tangis karena mengingat nasib anaknya.

Kini dirumah dengan ukuran enam kali enam meter, Husna bersama anak pertamanya Husnul, mengontrak rumah di wilayah Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh, seharga Rp10 juta per tahun, ini semua dilakukan demi terapi jalan anaknya Husnul.

"Kira-kira sudah satu tahun lima bulan saya hidup berdua di sini, meskipun seminggu sekali ayahnya (Faisal Azwani) datang menjenguk, sement ara adik Husnul (Humairatul Faina yang berusia 1,7 tahun kini tinggal bersama neneknya di Bireuen)," jelas Husna.

'Dampak CRS'

Dampak fatal bagi Ibu hamil yang terkena virus Measle Rubella (MR), akan melahirkan anak yang mengalami CRS, dengan keadaan sebagai berikut, barat badan rendah, buta, bocor jantung, tuli, pengecilan otak, keterlambatan pertumbuhan dan mental.

Hak atas foto ANTARA FOTO/ RAHMAD
Image caption Pemerintah Indonesia menggelar program vaksinasi MR sejak pertengahan tahun 2017.

"Ibu-ibu yang hendaknya melakukan program kehamilan, ada baiknya untuk melakukan vaksinisasi MR, untuk mencegah lahirnya anak cacat, selain itu anak-anak juga harus di vaksi n MR agar terhindar dari penyakit yang menular tersebut," kata dr. Herlina Dimiati, Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia Wilayah Aceh.

Selanjutnya, menurut Herlina Dimiati, vaksinisasi MR diperlukan untuk memutus mata rantai penyebaran virus campak rubella, agar tumbuh kembang anak Indonesia pada umumnya dan khususnya Aceh, terhindar dari berbagai penyakit menular.

'Pemerintah Aceh Setujui Vaksinisasi MR'

Bedasarkan hasil rapat pemerintah Aceh dengan Forkopimda di rumah dinas plt. Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, Rabu (19/09), pemerintah sepakat vaksinisasi MR dilanjutkan di Aceh.

Juru bicara Pemerintah Aceh, Wiratmadinata, mengatakan Pemerintah Aceh beserta dengan seluruh unsur forkopimda membolehkan vaksinisasi MR, dan menganjurkan agar kampanye vaksin tersebut dilanjutkan.

Hak atas foto HUMAS PEMPROV ACEH
Image caption Plt. Gubernur Aceh, Nova Iriansyah (tengah, berpeci) membolehkan vaksinasi MR dilakukan setelah sempat menunda pemberian vaksin MR kepada anak-anak di Aceh karena adanya enzim babi di dalam vaksin tersebut.

"Vaksin MR agar terus dilanjutkan, namun untuk orang tua yang tidak mau anaknya di vaksin agar tidak dilakukan pemaksaan, cukup bagi mereka yang mau saja di vaksin," kata Jubir Pemerintah Aceh, Wiratmadinata.

Keputusan Pemerintah Aceh disambut baik oleh Husna, yang merupakan ibu dari Husnul yang terdampak rubella, ia berharap agar vaksin MR tersebut juga tidak hanya untuk anak-anak yang digratiskan, namun juga pada perempuan dewasa yang hendak merencanakan kehamilan.

"Alhamdulillah kalau bapak Plt. Gubernur sudah membolehkan vaksin, semoga pemerintah juga bisa menggratiskan biaya vaksin untuk pengantin baru yang merencanakan kehamilan," harap Husna, ibu dari anak yang berdampak rubella.

Lebih lanjut Husna, ibu dari anak CRS, mengatakan semoga anak Aceh mau di imunisasi MR agar tidak terkena rubella, sudah cukup Husnul yang terkena dampak rubella, dan semoga tidak ada anak lain di luar sana yang bernasib sama seperti Husnul.

Sumber: Berita Aceh

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »