Melestarikan Tradisi, Merawat Jati Diri | Liputan 24 Aceh

Gratis Berlangganan

Tuliskan Alamat Email Anda. Gratis!

Delivered by FeedBurner

Melestarikan Tradisi, Merawat Jati Diri

Posted by On 4:26 AM

Melestarikan Tradisi, Merawat Jati Diri

PKA 7

Melestarikan Tradisi, Merawat Jati Diri

SETELAH menunggu hampir lima tahun, akhirnya rakyat Aceh kembali menikmati pergelaran budaya bertajuk Pekan Kebudayaan Aceh

Melestarikan Tradisi, Merawat Jati Diri

SETELAH menunggu hampir lima tahun, akhirnya rakyat Aceh kembali menikmati pergelaran budaya bertajuk Pekan Kebudayaan Aceh (PKA). Pergelaran budaya terbesar di Tanah Rencong ini terakhir kali dilaksanakan pada tahun 2013.

Rencananya, PKA yang ketujuh kalinya ini akan dibuka oleh Presiden Joko Widodo,Minggu (5/8) hari ini. Kegiatan ini akan berlangsung selama 10 hari (sampai 15 Agustus), dengan menyuguhkan berbagai atraksi budaya dari seantero Aceh. Pergelaran kebudayaan ini dipasti kan akan berlangsung meriah.

Perhelatan kebudayaan paling akbar ini dipusatkan di Taman Ratu Sultanah Safiatuddin, taman mini Aceh yang di dalamnya terdapat 23 anjungan atau rumah adat 23 kabupaten/ kota di Aceh. Selain di sana, pergelaran PKA juga berlangsung dalam ragam atraksi tradisi dan budaya di beberapa venue lainnya di Banda Aceh.

Pelaksana Tugas (Plt) GubernurAceh, Ir Nova Iriansyah ST MT yang juga Ketua Panitia PKA ke-7, menaruh harapan besar dari penyelenggaraan event empat tahunan itu. Dia berharap, kegiatanberskala nasional dan internasional ini bisa memberi dampak positif bagi Aceh, baik itu budaya, kesenian, destinasi wisata, dan terpenting adalah bisa mendongkrak laju pertumbuhan ekonomi di Aceh. PKA ke-7, kata Nova, adalah ruang ekspresi seluruh masyarakat Aceh, bukan hanya bertujuan untuk pengembangan bidang kesenian dan kebudayaan, akan tetapi melalui PKA juga diharapkan bisa menggerakkan pertumbuhan ekonomi yang lebih baik serta menjadi sarana eduka si bagi masyarakat dalam pengenalan budaya yang lebih mendetil. Pemerintah Aceh pada prinsipnya, ingin PKA kali inimenyumbang multiplier effect untuk pertumbuhan ekonomi kerakyatan dan membangun ekonomi kreatif di Aceh.

“Perhelatan PKA akan menghasilkan outcome. Uangnya tidak masuk ke kas pemerintah daerah, tapi beredar di masyarakat,” kata Nova dalam konferensi pers persiapan PKA ke-7 di Kompleks Museum Aceh, Minggu 3 Juni lalu.Dari sisi kesenian dan kebudayaan, PKA digelar tentu dengan ekpektasi tinggi.

Kegiatan akbar ini diharapkan mengangkat kembali seluruh khazanah kebudayaan orang Aceh dari berbagai etnis yang ada, baik dalam bentuk adatistiadat, seni budaya, khazanah peninggalan sejarah Aceh, hingga produk-produk kerajinan dari berbagai daerah di Aceh.

Budaya bersyariat
Selain sebagai sarana edukasi bagi generasi muda Aceh untuk mengenal identitas diri,PKA juga harus memperkuat status Aceh sebagai destinasi wisata budaya di kancah nasional dan jug a internasional. Terpenting, PKA juga harus menjadi ajang promosi budaya Aceh dalam bingkai syariat Islam yang diterapkan di Aceh. Karena itulah, PKA ke-7 mengangkat tema ‘Aceh Hebat dengan Adat Budaya Bersyariat’.

Menurut Nova, tema ini penting dan tepat, karena kebudayaan Aceh identik dengan nilai-nilai syariat. “Aceh provinsi yang menerapkan syariat Islam, dan akulturasi budaya lokal dengan Islam sudah terjadi sejak lama, sejak Islam pertama kali masuk ke Nusantara melalui Aceh,” katanya.

Melestarikan tradisi
ebih dari itu, PKA ke-7 kata Nova, adalah ajang melestarikan niai-nilai tradisi yang ada di Aceh, dari semua etnis, suku, dan daerah. Tujuannya, agar semua khazanah tersebut bisa diwariskan kepada generasi Aceh di masa mendatang. Selain itu, juga untuk merawat dan mengenal jati diri, agar masyarakat dan generasi muda Aceh dapat mengetahui kekayaan dan keaslian budayanya sendiri.

“Melalui PKA inilah kita lestarikan semua tradisi, kita jaga b udaya sembari merawat jati diri kita sebagai orang Aceh. Ini adalah simbol atau identitas keacehan kita, Aceh memiliki khazanah yang luarbiasa dan PKA ini adalah salah satu cara, ruang bagi kita untuk memperlihatkan apa yang kita miliki kepada dunia,” ungkap Nova Iriansyah.

Berbeda dengan sebelumnya
Suami Dyah Erti Idawati ini juga mengatakan, pergelaran PKA pertama dilaksanakanpada tahun 1958, dilanjutkan dengan PKA ke-2 pada tahun 1972, PKA ke-3 1988, PKA ke-4 pada tahun 2004, PKA ke-5 tahun 2009, dan PKA ke-6 pada tahun 2013 silam. Untuk PKA ke-7 ini, Nova mengatakan berbeda dengan sebelumnya.

Di mana, PKA kali ini menghadirkan berbagai keunikan dan pengalaman baru bagi pengunjung. Dalam pergelaran kali ini, panitia mencoba menghadirkan semua sisi masyarakat Aceh yang menggambarkan manifestasi rasa syukur atas apa yang telah diraih Aceh usai konflik dan musibah tsunami. PKA ke-7 tutur Nova juga menciptakan perbedaan, karena diprediksi akan dihadiri 35 ribu leb ih pengunjung dari dalam dan luar negeri.

Selain itu, kali ini juga ada penampilan tari kolosal yang melibatkan 1.000 penari dengan tema ‘Aceh Lhee Sagoe’.“Dan satu lagi yang berbeda, PKA kali ini dimeriahkan denganvideo mapping pada malam pembukaan yang tentu sangat fantastis,” ujar Nova.

Terakhir, Nova berharap, PKA yang dimulai pada hari ini hingga sepuluh hari ke depan, menjadi sebuah pergelaran yang memberikan manfaat bagi masyarakat Aceh dan Indonesia pada umumnya. “Kita harap, Aceh hebat tergambar dalam pergelaran ini. Semoga semuanya berjalan lancar dan menjadi sebuah pergelaran budaya yang berkesan,” pungkas Nova Iriansyah.(*)

Editor: bakri Sumber: Serambi Indonesia Ikuti kami di Sumber: Berita Aceh

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »